Entri Populer

Thursday, 4 September 2014

Pendaftaran CPNS di Kalbar di Buka Tanggal 8 September

(diambil dari: http://www.pontianakpost.com/metropolis/17354-pendaftaran-cpns-di-kalbar.html)
 
By
Ket Photo: Gambar dari INTERNET
PONTIANAK - Pendaftaran penerimaan calon pegawai negeri sipil tingkat provinsi maupun kabupaten kota di Kalbar dibuka serentak pada Senin (8/9). Kepala Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Kalbar, Kartius mengatakan jatah kuota penerimaan CPNS di Kalbar sebanyak 1.500 formasi. “Dibuka Senin (8/9) karena saat ini sedang menunggu Landak yang Kamis (hari ini) mengambil formasi di Kemenpan,” ungkap Kartius seusai membuka Rakor Teknis Bidang Kepegawaian Tingkat Provinsi Kalbar Tahun 2014, Rabu (3/9) di Grand Mahkota Hotel Pontianak.
Ia menuturkan sebanyak 1.500 formasi ini tersebar di provinsi maupun kabupaten kota. Terbanyak di Pemerintah Provinsi Kalbar, yakni sebanyak 159 formasi. Setelah Provinsi Kalbar, formasi terbanyak berada di Kayong utara sebanyak 152 formasi, Sekadau 121 formasi, Ketapang 113 formasi, Kapuas Hulu 106 formasi, Kubu Raya 103 formasi, dan Melawi 101 formasi. Sedangkan kabupaten lainnya mendapatkan jatah kurang dari 100 formasi, yakni Kota Pontianak 81 formasi, Kabupaten Pontianak 81 formasi, Singkawang 63 formasi, Sambas 56 formasi, Bengkayang 90 formasi, Landak 94 formasi, Sanggau 81 formasi, dan Sintang 99 formasi.
Menurut Kartius, seluruh kabupaten kota telah siap memfasilitasi pelaksanaan tes penerimaan CPNS. Lokasi tes sudah ditinjau Badan Kepegawaian Negara dan dinyatakan layak. “Pendaftarannya online langsung ke panselnas. Setelah itu baru membawa berkas (ijazah asli dan KTP) ke BKD untuk melihat keasliannya,” katanya.
Di lingkungan Pemprov Kalbar, rencananya tes penerimaan CPNS dengan menggunakan sistem Computer Assisted Test (CAT) dilaksanakan di di STMIK di Jalan HOS Cokroaminoto. Kapasitas komputer di sana 100 unit, sehingga diperkirakan dalam sehari ada 500 orang yang bisa melaksanakan tes. “Lokasi tes sudah dicek langsung oleh panitia pusat. Kami hanya memfasilitasi saja. Soal antara satu peserta dengan peserta lainnya berbeda. Informasinya ada 30 ribu soal di bank soal,” ungkapnya.
Penerimaan CPNS tahun ini menggunakan sistem passing grade. Kartius menyatakan sistem ini sempat dikritik Pemprov Kalbar dan mengusulkan agar tidak diterapkan di Kalbar. Tetapi usulan ini ditolak. Kementerian PAN dan RB tetap menerapkannya. “Jadi kalau tidak ada peserta yang sesuai passing grade, berarti yang lulus pada formasi tersebut dianggap nol. Ini merugikan daerah,” katanya.
Kartius meminta seluruh masyarakat Kalbar tidak percaya terhadap calo yang mengaku dapat meluluskan menjadi CPNS dengan imbalan tertentu.
“Tidak ada istilah dekat dengan gubernur, wagub, atau sekda. Yang bisa menolong meluluskan adalah diri sendiri dan berdoa kepada Tuhan,” ujar mantan Asistenn III Setda Provinsi Kalbar ini. (uni)
Formasi CPNS di Kalbar 2014

* Total            : 1.500 formasi
* Rincian:
- Pemprov Kalbar        : 159 formasi
- Kota Pontianak        : 81 formasi
- Kab. Pontianak        : 81 formasi
- Singkawang        : 63 formasi
- Sambas            : 56 formasi
- Bengkayang        : 90 formasi
- Landak            : 94 formasi
- Sanggau            : 81 formasi
- Sekadau            : 121 formasi
- Sintang            : 99 formasi
- Melawi            : 101 formasi
- Ketapang            : 113 formasi
- Kayong Utara        : 152 formasi
- Kubu Raya            : 103 formasi
- Kapuas Hulu        : 106 formasi


Sumber: BKD Provinsi Kalbar

Wednesday, 3 October 2012

Penyulit Pada Persalinan Kala III dan Kala IV



A.    Penyulit Pada Persalinan Kala III dan Kala IV
1.      Pengertian Emboli Cairan Ketuban
Emboli cairan ketuban merupakan sindrom dimana setelah sejumlah cairan ketuban memasuki sirkulasi darah maternal, tiba-tiba terjadi gangguan pernafasan yang akut dan shock.  Sindrom cairan ketuban adalah sebuah gangguan langka dimana sejumlah besar cairan ketuban tiba – tiba memasuki aliran darah. Emboli cairan ketuban adalah masuknya cairan ketuban beserta komponennya ke dalam sirkulasi darah ibu. Yang dimaksud komponen di sini ialah unsur-unsur yang terdapat di air ketuban seperti lapisan kulit janin yang terlepas, rambut janin, lapisan lemak janin, dan musin/cairan kental. yang dapat menghambat pembuluh darah dan mencairkan darah yang mempengaruhi koagulasi. Dua tempat utama masuknya cairan ketuban dalam sirkulasi darah maternal adalah vena yang dapat robek sekalipun pada persalinan normal. Ruptura uteri meningkatkan kemampuan masuknya cairan ketuban.
Emboli cairan ketuban dapat terjadi bila ada pembukaan pada dinding pembuluh darah dan dapat terjadi pada  wanita tua/ usia lebih dari 30 tahun, sindrom janin mati, Multiparitas, Janin besar intrauteri, Insidensi yang tinggi kelahiran dengan operasi, Menconium dalam cairan ketuban dan kontraksi uterus yang kuat. Dua puluh lima persen wanita yang menderita keadaan ini meninggal dalam waktu 1 jam. Emboli air ketuban atau EAK (Amniotic fluid embolism) merupakan kasus yang sangat jarang terjadi. Kasusnya antara 1 : 8.000 sampai 1 : 80.000 kelahiran.
Meskipun jarang terjadi, tetapi bila edema cairan ketuban terjadi pada wanita, maka akan menyumbat aliran darah ke paru, yang bila meluas akan mengakibatkan penyumbatan dijantung, sehinggaa iskemik dan kematian jantung secara mendadak bisa terjadi. Karena wanita tersebut akan mengalami gangguan penapasan, syok, hipotermi, Dyspnea, Batuk, Hipotensi perubahan pada membran mukosa akibat dari hipoksia Cardiac arrest. Koagulopati atau pendarahan parah karena tidak adanya penjelasan lain (DIC terjadi di 83% pasien.). Risiko emboli cairan ketuban tidak bisa diantisipasi jauh-jauh hari karena emboli paling sering terjadi saat persalinan. Dengan kata lain, perjalanan kehamilan dari bulan ke bulan yang lancar-lancar saja, bukan jaminan ibu aman dari ancaman EAK. Sementara bila di persalinan sebelumnya ibu mengalami EAK, belum tentu juga kehamilan selanjutnya akan mengalami kasus serupa. Begitu juga sebaliknya.
2.      ETIOLOGI
  • Multiparitas dan  Usia lebih dari 30 tahun
Shock yang dalam yang terjadi secara tiba – tiba tanpa diduga pada wanita yang proses persalinanya sulit atau baru saja menyelesaikan persalinan yang sulit . Khususnya kalau wanita itu multipara berusia lanjut dengan janin yang amat besar , mungkin sudah meningal dengan meconium dalam cairan ketuban, harus menimbulkan kecurigaan, pada kemungkinan ini ( emboli cairan ketuban ) .
  • Janin besar intrauteri
Menyebabkan rupture uteri saat persalinan, sehingga cairan ketubanpun dapat masuk melalui pembuluh darah.
  • Kematian janin intrauteri
Juga akan menyebabkan perdarahan didalam, sehingga kemungkinan besar akan ketuban pecah dan memasuki pembuluh darah ibu, dan akan menyubat aliran darah ibu, sehingga lama kelamaan ibu akan mengalami gangguan pernapasan karena cairan ketuban menyubat aliran ke paru, yang lama kelamaan akan menyumbat aliran darah ke jantung, dengan ini bila tidak tangani dengan segera dapat menyebabkan iskemik bahkan kematian mendadak.
  • Menconium dalam cairan ketuban
  • Kontraksi uterus yang kuat
Kontraksi uterus yang sangat kuat dapat memungkinkan terjadinya laserasi atau rupture uteri, hal ini juga menggambarkan pembukaan vena, dengan pembukaan vena, maka cairan ketuban dengan mudah masuk ke pembuluh darah ibu, yang nantinya akan menyumbat aliran darah, yang mengakibatkan hipoksia, dispue dan akan terjadi gangguan pola pernapasan pada ibu.
  • Insidensi yang tinggi kelahiran dengan operasi
Dengan prosedur operasi tidak jauh dari adanya pembukaan pembuluh darah, dan hal ini dapat terjadi ketuban pecah dan masuk ke pembuluh darah ibu.
3.      PATOFISOLOGI
Perjalanan cairan amnion memasuki sirkulasi ibu tidak jelas, mungkin melalui laserasi pada vena endoservikalis selama diatasi serviks, sinus vena subplasenta, dan laserasi pada segmen uterus bagian bawah. Kemungkinan saat persalinan, selaput ketuban pecah dan pembuluh darah ibu (terutama vena) terbuka. Akibat tekanan yang tinggi, antara lain karena rasa mulas yang luar biasa, air ketuban beserta komponennya berkemungkinan masuk ke dalam sirkulasi darah. Walaupun cairan amnion dapat masuk sirkulasi darah tanpa mengakibatkan masalah tapi pada beberapa ibu dapat terjadi respon inflamasi yang mengakibatkan kolaps cepat yang sama dengan syok anafilaksi atau syok sepsis. Selain itu, jika air ketuban tadi dapat menyumbat pembuluh darah di paru-paru ibu dan sumbatan di paru-paru meluas, lama kelamaan bisa menyumbat aliran darah ke jantung. Akibatnya, timbul dua gangguan sekaligus, yaitu pada jantung dan paru-paru. Pada fase I, akibat dari menumpuknya air ketuban di paru-paru terjadi vasospasme arteri koroner dan arteri pulmonalis. Sehingga menyebabkan aliran darah ke jantung kiri berkurang dan curah jantung menurun akibat iskemia myocardium. Mengakibatkan gagal jantung kiri dan gangguan pernafasan. Perempuan yang selamat dari peristiwa ini mungkin memasuki fase II. Ini adalah fase perdarahan yang ditandai dengan pendarahan besar dengan rahim atony dan Coagulation Intaravakuler Diseminata ( DIC ). Masalah koagulasi sekunder mempengaruhi sekitar 40% ibu yang bertahan hidup dalam kejadian awal. Dalam hal ini masih belum jelas cara cairan amnion mencetuskan pembekuan. Kemungkinan terjadi akibat dari embolisme air ketuban atau kontaminasi dengan mekonium atau sel-sel gepeng menginduksi koagulasi intravaskuler.
4.       MANIFESTASI KLINIS
Tanda-tanda dan gejala yang menunjukkan kemungkinan emboli cairan ketuban:
·       Tekanan darah turun secara signifikan dengan hilangnya diastolik pada saat pengukuran (Hipotensi )
·       Dyspnea, Batuk
·       Sianosis perifer dan perubahan pada membran mukosa akibat dari hipoksia.
·       Janin Bradycardia sebagai respon terhadap hipoksia, denyut jantung janin dapat turun hingga kurang dari 110 denyut per menit (dpm). Jika penurunan ini berlangsung selama 10 menit atau lebih, itu adalah Bradycardia. Sebuah tingkat 60 bpm atau kurang lebih 3-5 menit mungkin menunjukkan Bradycardia terminal.
·       Pulmonary edema, Cardiac arrest.
·       Rahim atony: atony uterus biasanya mengakibatkan pendarahan yang berlebihan setelah melahirkan.Kegagalan rahim untuk menjadi perusahaan dengan pijat bimanual diagnostik.
·       Koagulopati atau pendarahan parah karena tidak adanya penjelasan lain (DIC terjadi di 83% pasien.)
5.      PENATALAKSANAAN
Walaupun pada awal perjalanan klinis emboli cairan amnion terjadi hipertensi sistemik dan pulmonal, fase ini bersifat sementara. Wanita yang dapat bertahan hidup setelah menjakani resusitasi jantung paru seyogyanya mendapat terapi yang ditujukan untuk oksigenasi dan membantu miokardium yang mengalami kegagalan. Tindakan yang menunjang sirkulasi serta pemberian darah dan komponen darah sangat penting dikerjakan. Belum ada data yang menyatakan bahwa suatu intervensi yang dapat mempermaiki prognosis ibu pada emboli cairan amnion. Wanita yang belum melahirkan dan mengalami henti jantung harus dipertimbangkan untuk melakukan tindakan seksio caesaria perimortem darurat sebagai upaya menyelamatkan janin. Namun, bagi ibu yang hemodinamikanya tidak stabil, tetapi belum mengalami henti jantung, pengambilan keputusan yang seperti itu menjadi semakin rumit.
·  Terapi krusnal , meliputi : resusitasi , ventilasi , bantuan sirkulasi , koreksi defek yang khusus ( atonia uteri , defek koagulasi ).
·  Penggatian cairan intravena & darah diperlukan untuk mengkoreksi hipovolemia & perdarahan .
·  Oksitosin yang di tambahkan ke infus intravena membantu penanganan atonia uteri.
·  Morfin ( 10 mg ) dapat membantu mengurangi dispnea dan ancietas .
·  Heparin membantu dalam mencegah defibrinasi intravaskular dengan menghambat proses perbekuan.
·  Amniofilin ( 250 – 500 mg ) melalui IV mungkin berguna bila ada bronkospasme ..
·  Isoproternol menyebabkan vasodilatasi perifer, relaksi otot polos bronkus, dan peningkatan frekuensi dan kekuatan jantung. Obat ini di berikan perlahan – lahan melalui Iv untuk menyokong tekanan darah sistolik kira – kira 100 mmHg.
·  Kortikosteroid secara IV mungkin bermanfaat .
·  Heparin membantu dalam mencegah defibrinasi intravaskuler dengan menghambat proses pembekuan.
·  Oksigen diberikan dengan tekanan untuk meningkatkan.
·  Untuk memperbaiki defek koagulasi dapat digunakan plasma beku segar dan sedian trombosit.
·  Defek koagulasi  harus dikoreksi dengan menggunakan heparin / fibrinogen.
·  Darah segar diberikan untuk memerangi kekurangan darah; perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan pembebanan berlebihan dalam sirkulasi darah.
·  Digitalis berhasiat kalau terdapat kegagalan jantung.

2. Pengertian Atonia Uteri
Atonia uteri merupakan penyebab terbanyak perdarahan pospartum dini (50%), dan merupakan alasan paling sering untuk melakukan histerektomi postpartum. Kontraksi uterus merupakan mekanisme utama untuk mengontrol perdarahan setelah melahirkan. Atonia terjadi karena kegagalan mekanisme ini. Perdarahan pospartum secara fisiologis dikontrol oleh kontraksi serabut-serabut miometrium yang mengelilingi pembuluh darah yang memvaskularisasi daerah implantasi plasenta. Atonia uteri terjadi apabila serabut-serabut miometrium tidak berkontraksi. Batasan: Atonia uteri adalah uterus yang tidak berkontraksi setelah janin dan plasenta lahir.
a. Penyebab :
Atonia uteri dapat terjadi pada ibu hamil dan melahirkan dengan faktor predisposisi (penunjang ) seperti :
1.Overdistention uterus seperti: gemeli makrosomia, polihidramnion, atau paritas tinggi.

2. Umur yang terlalu muda atau terlalu tua.
3. Multipara dengan jarak kelahiran pendek
4. Partus lama / partus terlantar
5. Malnutrisi.
6. Penanganan salah dalam usaha melahirkan plasenta, misalnya plasenta belum terlepas dari inding uterus.
b.Gejala Klinis:
·                 Uterus tidak berkontraksi dan lunak 
·                 Perdarahan segera setelah plasenta dan janin lahir (P3).
c.Pencegahan atonia uteri.
Atonia uteri dapat dicegah dengan Managemen aktif kala III, yaitu pemberian oksitosin segera setelah bayi lahir (Oksitosin injeksi 10U IM, atau 5U IM dan 5 U Intravenous atau 10-20 U perliter Intravenous drips 100-150 cc/jam. Pemberian oksitosin rutin pada kala III dapat mengurangi risiko perdarahan pospartum lebih dari 40%, dan juga dapat mengurangi kebutuhan obat tersebut sebagai terapi. Menejemen aktif kala III dapat mengurangi jumlah perdarahan dalam persalinan, anemia, dan kebutuhan transfusi darah.Oksitosin mempunyai onset yang cepat, dan tidak menyebabkan kenaikan tekanan darah atau kontraksi tetani seperti preparat ergometrin. Masa paruh oksitosin lebih cepat dari Ergometrin yaitu 5-15 menit. Prostaglandin (Misoprostol) akhir-akhir ini digunakan sebagai pencegahan perdarahan postpartum.
d. Penanganan Atonia Uteri
1) Penanganan Umum
·       Mintalah Bantuan. Segera mobilisasi tenaga yang ada dan siapkan fasilitas tindakan gawat darurat.
·       Lakukan pemeriksaan cepat keadaan umum ibu termasuk tanda vital.
·       Jika dicurigai adanya syok segera lakukan tindakan. Jika tanda -tanda syok tidak terlihat, ingatlah saat melakukan evaluasi lanjut karena status ibu tersebut dapat memburuk dengan cepat. 
·       Jika terjadi syok, segera mulai penanganan syok.oksigenasi dan pemberian cairan cepat, Pemeriksaan golongan darah dan crossmatch perlu dilakukan untuk persiapan transfusi darah.
·       Pastikan bahwa kontraksi uterus baik: 
·       lakukan pijatan uterus untuk mengeluarkan bekuan darah. Bekuan darah yang terperangkap di uterus akan menghalangi kontraksi uterus yang efektif. berikan 10 unit oksitosin IM 
·       Lakukan kateterisasi, dan pantau cairan keluar-masuk.
·       Periksa kelengkapan plasenta Periksa kemungkinan robekan serviks, vagina, dan perineum.
·       Jika perdarahan terus berlangsung, lakukan uji beku darah.
Setelah perdarahan teratasi (24 jam setelah perdarahan berhenti), periksa kadar Hemoglobin:

Jika Hb kurang dari 7 g/dl atau hematokrit kurang dari 20%( anemia berat):berilah sulfas ferrosus 600 mg atau ferous fumarat 120 mg ditambah asam folat 400 mcg per oral sekali sehari selama 6 bulan;
·       Jika Hb 7-11 g/dl: beri sulfas ferrosus 600 mg atau ferous fumarat 60 mg ditambah asam folat 400 mcg per oral sekali sehari selama 6 bulan;
2).Penanganan Khusus
·  Kenali dan tegakkan diagnosis kerja atonia uteri.
·  Teruskan pemijatan uterus.Masase uterus akan menstimulasi kontraksi uterus yang menghentikan perdarahan.
·  Oksitosin dapat diberikan bersamaan atau berurutan
·  Jika uterus berkontraksi.Evaluasi, jika uterus berkontraksi tapi perdarahan uterus berlangsung, periksa apakah perineum / vagina dan serviks mengalami laserasi dan jahit atau rujuk segera.
·  Jika uterus tidak berkontraksi maka :Bersihkanlah bekuan darah atau selaput ketuban dari vagina & ostium serviks. Pastikan bahwa kandung kemih telah kosong.  Antisipasi dini akan kebutuhan darah dan lakukan transfusi sesuai kebutuhan.
·  Jika perdarahan terus berlangsung:
·  Pastikan plasenta plasenta lahir lengkap;Jika terdapat tanda-tanda sisa plasenta (tidak adanya bagian permukaan maternal atau robeknya membran dengan pembuluh darahnya), keluarkan sisa plasenta tersebut.Lakukan uji pembekuan darah sederhana.
Kegagalan terbentuknya pembekuan setelah 7 menit atau adanya bekuan lunak yang dapat pecah dengan mudah menunjukkan adanya koagulopati.
·  Jika perdarahan terus berlangsung dan semua tindakan di atas telah dilakukan, lakukan:
Kompresi bimanual internal atau Kompresi aorta abdominalis Lakukan kompresi bimanual internal (KBI) selama 5 menit.
·  Jika uterus berkontraksi, teruskan KBI selama 2 menit, keluarkan tangan perlahan-lahan dan pantau kala empat dengan ketat.Jika uterus tidak berkontraksi, maka : Anjurkan keluarga untuk mulai melakukan kompresi bimanual eksternal; Keluarkan tangan perlahan-lahan; Berikan ergometrin 0,2 mg LM (jangan diberikan jika hipertensi); Pasang infus menggunakan jarum ukuran 16 atau 18 dan berikan 500 ml RL + 20 unit oksitosin. Habiskan 500 ml pertama secepat mungkin; Ulangi KBI,Jika uterus berkontraksi, pantau ibu dengan seksama selama kala empat.
·  Jika uterus tidak berkontraksi maka rujuk segera.
Kompresi Uterus Bimanual.
Peralatan : sarung tangan steril; dalam keadaan sangat gawat; lakukan dengan tangan telanjang yang telah dicuci
Teknik :
·  Basuh genetalia eksterna dengan larutan disinfektan; dalam kedaruratan tidak diperlukan,
·  Eksplorasi dengan tangan kiri 
·  Sisipkan tinju kedalam forniks anterior vagina.Tangan kanan (luar) menekan dinding abdomen diatas fundus uteri dan menangkap uterus dari belakang atas. 
·  Tangan dalam menekan uterus keatas terhadap tangan luar,ia tidak hanya menekan uterus, tetapi juga meregang pembuluh darah aferen sehingga menyempitkan lumennya.
Kompresi uterus bimanual dapat ditangani tanpa kesulitan dalam waktu 10-15 menit.
Biasanya ia sangat baik mengontrol bahaya sementara dan sering menghentikan perdarahan secara sempurna.Bila uterus refrakter oksitosin, dan perdarahan tidak berhenti setelah kompresi bimanual, maka histerektomi tetap merupakan tindakan terakhir.



3. KBI dan KBE
Kompresi bimanual interna dan eksterna merupakan salah satu upaya pertolongan pertama pada perdarahan pasca persalinan yang disebabkan oleh atonia uteri. Tindakan ini bertujuan menjepit pembuluh darah dalam dinding uterus serta merangsang miometrium untuk berkontraksi. Kompresi Bimanual Interna harus segera dilakukan apabila uterus tidak berkontraksi dalam 15 detik setelah dilakukan rangsangan taktil (masase) pada fundus uteri. Karena ada intervensi tangan penolong yang masuk ke dalam jalan lahir, tindakan ini lebih dapat meningkatkan resiko terjadinya infeksi pada pasca partum. Oleh karena itu, penerapan teknik septik-aseptik sangat membantu dalam menurunkan angka kejadian infeksi setelahnya. Kompresi bimanual interna dan eksterna dikerjakan dengan disertai pemberian cairan infus yang ditambahkan uterotonika (oksitosin 20 UI ) didalamnya.
Bila kompresi bimanual pada uterus tidak berhasil dan perdarahan tetap terjadi lakukan kompresi aorta , cara ini dilakukan pada keadaan darurat sementara penyebab perdarahan sedang dicari.Sesuai standar pelayanan kebidanan (standar 20: penanganan perdarahan postpartum primer) bidan mampu mengenali perdarahan yang berlebihan dalam 24 jam pertama setelah persalinan (perdarahan post partum primer) dan segera melakukan pertolongan pertama kegawat daruratan untuk mengendalikan perdarahan.. Dengan demikian, suatu keharusan bagi bidan untuk mampu dan kompeten melakukan tindakan Kompresi Bimanual Interna dan Eksterna dan Kompresi Aorta Abdominal pada pasien dengan atonia uteri.